Rekayasa Ekonomi dari Pasar Mama-Mama Papua

ilustrasi pedagang mama – mama Papua. (Foto : dok. cahayapapua.com)

Pasar mama – mama Papua adalah dasar pijak pengembangan ekonomi kreatif. Pelatihan dengan gagasan-gagasan ekonomi yang berbeda dengan tidak menghilangkan budaya serta kebiasaan. Pendampingan ekonomi menjadi penting sebagai upaya mendorong kelangsungan ide kreatif yang mandiri. Perlu sebuah rekayasa ekonomi untuk jadikan Pasar Mama – Mama Papua berbeda dengan pasar lainnya dan menjadi iconik dan bukan sekedar tempat jual beli hasil kebun saja.

Oleh    : Karmin Lasuliha*

Dua puluh satu tahun lalu ketika saya menempuh studi di SMK N 5 Seni & Kria, hal yang pertama saya pikirkan adalah sekolah itu untuk masa depan, kita akan dapat bertahan hidup di tengah persaingan global bangsa.

Melihat Papua sebagai daerah dengan keragaman budaya suku bangsa ini menjadi sangat relevan dengan pijakan langkah kaki saya menempuh studi di sekolah tersebut, yang menjadi alasan saya bahwa sekolah tersebut akan mampu bertahan memperjuangkan entitas masyarakat asli Papua adalah jurusan yang dapat membangun ekonomi kreatif dari potensi–potensi yang ada di Tanah Papua.

Dari sinilah saya mengenal motif dan desain lokal daerah Papua, mengetahui usaha-usaha kreatif seni lukis, pahat dan kerajinan tangan di pinggiran danau Sentani, Kayu Pulo, kampung Engross dan Tobati, mengenal kekayaan sumber daya alam yang mumpuni dan tersedia sebagai bahan baku industri kreatif dan dapat digunakan kapan saja untuk peningkatan sumber daya ekonomi keluarga.

Itu cerita dua dekade lalu seiring dengan berkembangnya waktu dan modernisasi, sekolah tersebut masih tetap berdiri dan konsisten mengajarkan kearifan-kearifan local budaya Papua. Entah sampai kapan dia akan bertahan karena peminatnya pun lambat laun mulai hilang di telan jaman.

Baca Juga:  Sambangi Pasar Mama Papua, Presiden Beli Setumpuk Jambu, Jeruk, Jahe dan Sebotol Madu

Sekarang adalah saat-saat cukup membanggakan, keberpihakan terhadap masyarakat asli semakin memberi angin segar tentang kualitas pikir membangun daerah melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan teknologi informasi yang begitu pesat, kemampuan berpikir kita dapat melompat jauh memandang Papua sebagai negeri yang kaya akan potensi – potensi itu, dengan beragam sumber daya alam yang dapat di manfaatkan untuk kepentingan masyarakat asli Papua.

Ekonomi kreatif dalam konteks kemerdekaan ekonomi lokal kita memandangnya sebagai bentuk kemandirian keluarga, Setiap individu mampu menjadikan dirinya sebagai entitas ekonomi yang dapat mempengaruhi strukstur socialnya. bahwa dalam mempengaruhi perlu adanya sebuah rekayasa dari pemerintah untuk peningkatan kapasitas individu maupun kelompok masyarakat.

Desain – desain yang kita anggap sebagai rekayasa ekonomi sebenarnya telah digulirkan, tetapi bantuan terhadap usaha-usaha kecil bagi orang asli Papua belum memberi dampak bagi kemandirian keluarga apalagi mempengaruhi struktur social kearah yang lebih baik.

Sebagai pelaku ekonomi, mereka yang berjualan di pasar maupun di selasar – selasar jalan hanya dapat mengahasilkan biaya untuk bertahan hidup sehari.

Otonomi khusus bukan sesuatu yang baru lagi, masyarakat awam melihat Otsus sebagai wujud kemandirian daerah untuk memberi berkah bagi mereka, juga Otsus adalah sebuah keputusan dan kemenangan secara politik untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat Papua.

Dalam catatan Kwik Kian Gie, bahwa kemerdekaan politik merupakan jembatan emas menuju kemakmuran yang berkeadilan dan kesejahteraan rakyat.

Pasar Mama – Mama
Baru-baru ini saya menemani beberapa teman dari Jakarta yang sedang melakukan perjalanan dinas, pasca kegiatan mereka ingin membawa pulang oleh-oleh untuk sahabat dan sanak keluarga berupa pernak pernik dan kerajinan tangan ikonic Papua.

Baca Juga:  Dikukuhkan, Tim Relawan MAESA Pastikan 80 Ribu Warga Kawanua di Papua Dukung LUKMEN

Ini permasalahannya, kerajinan asli Papua kita dapatkan di lapak-lapak pedagang yang bukan orang Papua.

Bertolak dari Pasar Hamadi kami singgah di Pasar Mama-Mama Papua membeli ikan bakar asap. Mama-mama hanya seorang pedagang kecil dengan kekuntungan semalam yang besok habis untuk keperluan ini itu. Pedagang yang lainnya hanya menjual sayur, buah dan ikan segar.

Menurut seorang teman, pasar mama-mama Papua adalah symbol yang baik dan memiliki nama besar maka itu harus di kembangkan sebagaimana namanya.

Pasar mama – mama Papua yang terkenal di Jayapura dan menjadi icon di Kementerian Perdagangan RI (di film kan beberapa bulan lalu), apakah menjadi representasi semakin baiknya rekayasa ekonomi bagi pedagang asli Papua ataukah tidak.

Bagaimana pengahasilan mereka, sudahkah memenuhi target pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder ? Bagaimana cara mereka berkompetisi, adakah desain baru yang dapat meningkatkan pendapatan mereka ? Mereka akan tetap menjadi pedagang kecil di era program keberpihakan.

Mama-mama perlu pendampingan serius untuk pengembangan kapasitas pribadinya, mama–mama juga ingin memperkuat daya kreatif nya. Saya pikir mereka juga sangat welcome untuk tahu cara membangun industri – industri kecil di lapaknya, inilah icon yang sebenarnya yang harus di pikirkan bersama. Perlu ada rekayasa pemerintah untuk pasar mama – mama sehingga dapat menjadi pembeda dengan pasar-pasar yang lain.

Pasar mama-mama bukan hanya sekedar nama sebuah infarstruktur bangunan tetapi lebih dari itu. Mama-mama adalah pilot project rekayasa ekonomi di Provinsi Papua sehingga harus benar-benar di finalisasikan sebagai kebanggaan pengembangan ekonomi kreatif untuk mereka.

Kita perlu perbaikan dan memperbaiki suatu tatanan pasar serta desain ekonomi, memang memerlukan kajian yang mendalam tentang masalah ekonomi yang timbul atau yang akan terjadi nanti. Salah satunya adalah melakukan sebuah rekayasa ekonomi untuk kepentingan kemandirian ekonomi local yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Tak Ada Lawan dan Kawan Abadi Dalam Pemilu Malaysia

Rekayasa ekonomi kreatif merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah gerakan berbeda dari cara ideal tertentu secara ekonomi yang ditujukan untuk memengaruhi perubahan – perubahan ekonomi;dalam hal ini, perlu ada yang menggerakan dan memberikan contoh untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih tradisional supaya mengikuti arus perkembangan zaman.

Permasalahan-permasalahan yang timbul di bidang ekonomi secara umum adalah masyarakat yang belum tergerakkan untuk lebih maju berpacu menjadi seorang kompetitor. Pasar mama-mama Papua sebagai pasar percontohan. Penyelesaian atasnya adalah dengan intervensi cara serta dan metodenya yakni mama-mama Papua diberikan peluang dasar mendapatkan apa yang mereka inginkan sebagai bahan baku, kemudian pemerintah menyediakan wadah serta alat pendukung dan membuka segmen – segmen pasar bagi mereka secara kontinyu.

Pemerintah tentunya harus berpikir jauh untuk sebuah perubahan ekonomi. Sangat diperlukan adanya campur tangan sumber daya manusia yang sudah terdidik, keberpihakan program – program ekonomi kreatif secara serius dan tepat sasaran.

Pasar mama – mama Papua adalah dasar pijak pengembangan ekonomi kreatif. Pelatihan dengan gagasan-gagasan ekonomi yang berbeda dengan tidak menghilangkan budaya serta kebiasaan. Pendampingan ekonomi menjadi penting sebagai upaya mendorong kelangsungan ide kreatif yang mandiri.

Tetap optimis membangun perekenomian, menghidupkan gerakan membangun dari pinggiran bagi pelaku-pelaku ekonomi yang tidak tersentuh dan sedang berjuang sendiri memabangkitkan semangat ekonomi kreatifnya. *(Penulis adalah Direktur Lembaga Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik LINGKAR PAPUA tinggal di Jayapura)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*