Papua Butuh Panti Rehabilitasi Narkoba Segera !

Kepala BNN Papua, Brigjen (Pol) Drs. M. Abdul Kadir, M.Si di saksikan dengan stake holder lainnya saat memusnahkan 7 Kg ganja hasil tangakapan TNI-AL beberapa waktu lalu. (Foto : Faizal / Lingkar Papua)

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA— Dari tahun ke tahun jumlah pengguna narkoba baik jenis ganja, bahkan jenis psikotropika seperti shabu – shabu di Papua makin bertambah dan akan terus bertumbuh, hal itu bisa di identifikasi dengan makin banyaknya jumlah kasus penangkapan maupun jumlah quantity barang bukti yang berhasil di amankan, menunjukkan bahwa geliat jaringana narkoba untuk merusak generasi muda di Papua mulai massif.

Indikator lainnya adalah di tahun 2017 kemarin jumlah pengguna yang harus di rehabilitasi jumlahnya juga sudah mendekati angka 200 orang, dan ironinya para pecandu tersebut tidak bisa di rehabilitasi di Papua, agar lebih mudah di awasi orang tua dan keluarganya juga, karena ketiadaan fasilitas rehabilitasi, sehingga mereka selama menjalani rehabilitasi harus jauh dari orang – orang terkasih.

Baca Juga:  Ini Tanggapan Ketua DPRP Terkait Ancaman PDI P dan Gerindra Tarik Diri dari Pansus

“Ada 186 yang direhabilitasi pada 2017 dan sebagian besar usia produktif memang memprihatinkan, apalagi di awal 2018 ini banyak pengguna yang masih remaja, usia sekolah dan produktif”, kata Sefnat B Layan, Kabid Rehabailitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua, Rabu (14/2/2018) di sela – sela kegiatan pemusnahan barang bukti narkotika jenis ganja seberat 7 Kg di kantor BNN Papua di Aryoko, dimana barang bukti yang dimusnahkan kemarin adalah hasil tangkapan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) X Jayapura belum lama ini.

Menurutnya di tahun 2017 kemarin dari target 190 pecandu yang seharusnya menjalani rehabilitasi, baru bisa tertangani sebanyak 48 pecandu, dimana sebanyak 44 orang di inapkan di BNN Papua, 3 orang di Makassar dan 1 orang di Kalimantan.

“untuk awal tahun 2018  ini targetnya ada  40 orang, namun dari Januari sudah mencapai 21 pecandu yang ironisnya ada beberapa diantaranya masih pelajar”, kata Sefnat B. Layan lagi.

Menanggapi fenoma ini, BNN Papua telah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk mencegah dan memberantas peredaran narkoba di berbagai satuan pendidikan.

Baca Juga:  Djuli Mambaya Akhirnya Angkat Bicara

“Yang perlu dipahami bukan diremaja saja tapi juga bisa sampai ke tingkat anak-anak, ini yang perlu diwaspadai.Kami juga ada program terintegritasi dan kami akan luncurkan satuan tugas yang bekerja sama dengan berbagai instansi”, kata Brigjen (Pol) Drs M. Abdul Kadir M.Si, Kepala BNN Papua, Rabu (14/2/2018) menambahkan usai pemusnahan barang bukti ganja dengan cara di bakar dalam tong sampah.

Meski sudah  banyak korban, pihak BNN Papua rupanya masih terkendala dengan tempat rehabilitasi yang belum tersedia. Bahkan selama ini BNN Papua harus mengirim para pecandu ke Makassar dan Bogor.

“Kita sudah koordinasikan dengan Pemprov Papua agar bagaimana ada pusat rehabilitasi ringan dulu di Papua sini, dalam waktu dekat secara tertulis kita ajukan juga ke Gubernur,” ujar Kepala BNN lagi.

Menurutnya, jika tempat rehabilitasi sudah ada di Papua tentu akan mempermudah keluarga pecandu untuk menjenguk tanpa buang biaya banyak.

Baca Juga:  Berkas Cagub – Cawagub Papua Sudah di Meja DPRP, Uji Keaslian Orang Papua, MRP Rencana Wawancara Dengan 'Bahasa Ibu'

Dalam waktu 7 hari di Januari 2018 BNN Provinsi Papua berhasil mengamankan 5 tersangka pengguna narkoba jenis ganja yang ditangkap di dua  tempat berbeda dengan barang bukti kurang lebih 7 Kg ganja kering.

5 orang tersangka dengan inisial masing-masing  SYL, SSR, PA, RW dan SF tiga diantaranya merupakan hasil penangkapan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) X Jayapura yang saat itu berhasil mengamankan 219 bungkus  ganja kering serta 24 linting ganja pada saat melakukan patroli rutin di perairan Teluk Yos Sudarso, Jayapura Papua.

Ketua BNN Papua Brigjen (Pol) Drs M. Abdul Kadir M.Si berharap, pemusnahan barang bukti tersebut merupakan yang terbanyak dan terakhir di tahun 2018.

“Ini penangkapan terbesar, mungkin jumlahnya lebih dari itu karena ada yang dibuang ke laut. Tapi, jangan sampai kedepan ada lagi yang lebih banyak,” ungkap Abdul Kadir dalam arahannya sesaat sebelum barang bukti dimusnahkan, Rabu (14/2/2018)

Menurutnya, daerah di Papua memang berpotensi besar menjadi tempat peredaran gelap narkoba.

“Ini karena memang kondisi geografisnya yang juga mendukung, ditambah dengan jalur masuk yang banyak baik melalui laut, darat maupun udara,” kata Kepala BNN lagi. (fnw/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*