Intoleransi Mengepung Elite Papua, Kemanakah Suara Majelis Muslim Papua ?

Ilustrasi (foto : Twitter [email protected])

Masalah agama bukan barang baru yang jadi perdebatan di Papua, apa yang terjadi di Papua tentang intoleransi adalah turunan dari maraknya intoleransi yang dipertontonkan di Pulau Jawa, yang mana suasana itu kemungkinan di copy paste secara psikologi oleh kaum elite di Papua, Majelis Muslim Papua (MMP) sebagai lembaga yang secara filosofis, kultural dan politis sangat khas Papua mestinya bisa mengambil peran untuk mengatasi masalah intoleransi di Papua, karena MMP punya akar kompromi dalam adat, para-para adat dan satu tungku tiga batu.

Oleh : Lamadi de Lamato*

Beberapa bulan ini, saya menyaksikan postingan kaum elite Papua tentang isu sentimen keagamaan sudah di level waspada!

Yang pertama postingan Ismail Asso tentang Islam yang tidak diperhatikan Gubernur petahana, iapun meminta umat islam tidak memilih petahana dalam Pilgub 2018 melainkan memilih rivalnya pasangan calon JOSUA.

Postingan ini seperti api menyala ditengah suasana Papua yang sedang adem, dan postingan ini tercatat sangat viral di jagat medsos !!

Postingan lainnya terkait sentiment keagamaan adalah postingan Rahail Izak Martinus yang membuat surat terbuka pada pembangunan musholah di kantor Pengadilan Abepura juga tidak kalah menghebohkan. Kendati sudah di protes, musholah yang terletak ditengah – tengah kota itu tetap dilanjutkan.

Yang terakhir postingan Yusak Andato tentang menara pembangunan masjid di Kabupaten Jayapura yang dianggap sangat tinggi dan tidak pas, yang bersangkutan menyebut ini Tanah Injil sehingga pembangunan masjid perlu diperhatikan seluruh stake holder di Papua.

Baca Juga:  Sepekan, Mulai Dari Ganja, Miras, Kayu Ilegal Sampai Senjata Berhasil Diamankan Satgas Pamtas di Keerom

Uniknya, ia menyebut bahwa postingannya bukan politisasi atau provokasi tapi ia lupa bila namanya sangat identik dengan politik. Yusak Andato memang bukan lagi Ketua Senat Mahasiswa Uncen 2 periode, ia juga bukan Ketua KNPI Papua, ia juga sudah bukan anggota DPRD seperti dulu alias rakyat biasa.

Namun atribut besar dan tokoh politik kaum muda di Papua tidak akan hilang begitu saja, dari pemikiran itu, postingannya yang menyoroti menara masjid dan Papua Tanah Injil di atas tetap saja berbau politik walau ia menyebut bukan politik dan provokasi.

Ismail Asso, Rahail Izak Martinus, Yusak Andato saya kategorikan kaum elite yang tidak bisa dianggap remeh dalam setiap postingan dan statemennya, postingan tentang agama dari mereka mendapat respon luar biasa dan langsung banyak netter membagikan apa yang mereka posting.

Memang masalah agama bukan barang baru yang jadi perdebatan di Papua, apa yang terjadi di Papua tentang intoleransi adalah turunan dari maraknya intoleransi yang terjadi di Pulau Jawa, dan suasana itu kemungkinan di copy paste secara psikologi oleh kaum elite di atas.

Salahkah suara kaum elite Papua di atas yang ikut-ikutan intoleran juga ? Bila di Pulau Jawa pembangunan sarana ibadah bagi umat  Kristen banyak dapat sorotan, maka di Papua sebagai Tanah Injil, pembangunan masjid dan mushollah tidak lepas dari sorotan juga.

Baca Juga:  Soal Dana Afirmative Paramedis Yang Diduga Menguap, Kepala OPD Baru Minta Jangan Ada Mogok dan Janji Tuntaskan

Sepintas masalah ini biasa dan tidak mengganggu tapi tidak ada jaminan bila barang yang sensitif ini tidak menimbulkan masalah bila tidak dikelola dengan bijaksana.

Dari pemikiran ini, masalah “unek-unek” ketiga elite di atas harus di follow up agar ia tidak menjadi masalah biasa yang kemudian menjadi besar dan berimplikasi luas dalam gerakan ekstrim dan berbahaya.

Siapakah yang pantas menyikapi hal ini ? Hemat saya Majelis Muslim Papua (MMP) yang baru saja memiliki Ketua baru, Prof. Dr. Basyir Rohromana yang menggantikn H. Arobi Aituarauw.

Lembaga ini secara filosofis, kultural dan politis sangat khas Papua, masalah toleransi di Papua punya akar kompromi dalam adat, para-para adat dan satu tungku tiga batu.

Bukan menafikan MUI, NU, Muhammadiyah dan FKUB dalam merespon hal ini untuk diselesaikn tapi lembaga – lembaga ini terlalu formalistik merespon masalah keagamaaan dan tidak cocok dengan corak multi kulturalisme di Papua yang lebih soft dengan pendekatan kekerabatan.

Kemanakah suara MMP saat wacana intoleransi di atas menggema sepoi – sepot ? Dua tahun lalu saya sempat sedikit berkontribusi ‘membuka jalan’ agar ada dukungan dari Gubernur Papua guna pelaksanaan Muktamar MMP, karena ketika itu saya melihat etos kepapuannya yang pas dalam memediasi banyak masalah di Tanah Papua kelak, karena di dalamnya ada Thaha Al Hamid, Arobi Aituarauw, Muhammad Musaad, sehingga saya berharap banyak ketika suara – suara intoleransi dari luar Papua itu mulai menular ke Tanah Papua, MMP bisa mengambil peran lebih aktif lagi tentunya.

Baca Juga:  Soal Sistem Noken di Papua, Perludem Minta Harus Diatur Dengan PKPU

Tokoh – tokoh muslim itu semua berkumpul di MMP, suara MMP adalah suara moderasi, kekerabatan dan indigineous people, sampai saat ini, suara MMP tidak kunjung muncul, jangan – jangan saat konflik saja baru mereka mau sibuk “keluar kandang”.

Sebagai saran, untuk kaum elite Papua yang mempersoalkan masjid, musholah dan atribut toleransi lain sebaiknya ikut mengajak MMP biar masalah Papua dalam multi kulturalisme tetap terjaga dalam spirit kekerabatan.

Dari narasi di atas, masalah pembangunan masjid, musholah dan Papua sebagai Tanah Injil serta kaum elite Papua yang dikepung intoleransi jangan dianggap remeh tapi ini masalah serius. Membiarkan masalah itu dalam suasana politik Pilgub, Pilbup dan Pilpres serta internasionalisasi Papua di Pasifik dan PBB yang panas, masalah ini bisa ikut terbakar dan memusnahkan kita semua di Tanah Papua ini.

Sekali lagi, jagan remehkan hal ini, semoga MMP mau turun tangan menginisiasi gerakan damai atau apapun namanya dalam menghalau bara intoleransi yang mulai beredar sepoi – sepoi yang di blow up tokoh- tokoh pemuda di atas. *(Penulis adalah Direktur Buton Action Network, Penulis Buku dan Pemerhati Masalah Social Politik di Papua)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*