Pilkada Serentak dan Regenerasi Politik Lokal

Untuk dapat melahirkan pemimpin kelas satu, pemimpin yang berkualitas. Rakyat adalah subjek, dan bukan objek politik. Maka proses regenerasi kepemimpinan lokal akan menemukan momentum dalam Pilkada ini manakala rakyat memiliki kesadaran untuk memilih secara benar dengan hati nurani.

Oleh    : Maiton Gurik*

Lahirnya Pilkada Serentak merupakan wujud dari kegelisaan publik terhadap krisis kepemimpinan politik dan ketidakefisen mengelola keuangan negara oleh Kepala Daerah dan para politisi.

Karenanya, Pilkada Serentak akan menjadi ajang kontestasi tingkat tertinggi di daerah dan diharapkan akan melahirkan pemimpin berintegritas yang mampu membawah daerah menjadi yang lebih baik.

Pilkada Serentak adalah salah satu bentuk demokrasi menempati peran penting dalam regenerasi kepemimpinan dan pembangunan didaerah. Sebab pemimpin diderah akan menentukan langsung arah kebijakan untuk menciptakan daerah masing-masing menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya pilkada serentak kali ini menjadi perhelatan yang bermakna dan memberi harapan baru bagi rakyat.

Fakta menunjukan bahwa Calon Kepala Daerah dalam Pilkada Serentak tidak hanya dari partai namun dapat dari calon perseorangan atau calon independen yang menunjukan bahwa demokrasi kita semakin terbuka untuk rakyat.

Siapapun asal memenuhi syarat sebagaimana termaktub dalam konstitusi dapat terlibat di ajang kontestasi tertinggi ditingkat daerah ini. Calon independen menjadikan sistem demokrasi kita bukan lagi semata-mata milik kalangan elite dan para kolega.

Baca Juga:  Willem Wandik Usulkan Perlunya Perpres Percepatan Pembangunan Infrastruktur PON 2020 di Papua

Dari calon-calon independen muncul berwarna-warni yang lebih beragam; pilihan pun terbuka. Namun demikian, sikap tanpa candangan (reseve) bukanlah hal yang bijaksana. Maksudnya, sistem pencalonan independen juga tidak otomatis menjamin lahirnya pemimpin yang ideal, yang berintegritas. Semuanya kembali kepada komitmen masing-masing calon-independen maupun dari partai.

Pada Pilkada Serentak 2017 lalu, persyaratan calon independen juga diperketat. Sebagaimana sering saya kemukakan Calon Kepala Daerah dari jalur independen tidak hanya bisa mengumpulkan fotokopi KTP, namun juga harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Karena itu, KTP yang dikumpulkan bukan hanya KTP milik siapa saja namun juga dari para tokoh dan kalangan yang menjadi panutan didaerah, untuk menunjukan bahwa si calon memang memenuhi kriteria sebagai calon pemimpin yang diakui.

Hal ini bukan untuk meminimalisasi munculnya calon-calon dari jalur independen melainkan untuk meningkatkan kualitas pesta demokrasi itu sendiri. Sebab, apa artinya perhelatan akbar yang menelan biaya besar kalau akhirnya melahirkan pemimpin papan tengah (medioker), atau pemimpin kelas menengah.

Baca Juga:  Di Papua, Ada Calon Wakil Bupati Diduga Masih Berstatus PNS ?

Untuk dapat melahirkan pemimpin kelas satu, pemimpin yang berkualitas. Rakyat adalah subjek, dan bukan objek politik. Maka proses regenerasi kepemimpinan lokal akan menemukan momentum dalam Pilkada ini manakala rakyat memiliki kesadaran untuk memilih secara benar dengan hati nurani.

Proses regenerasi adalah suatu kemestian untuk keberlangsungan sebuah organisasi, termasuk organisasi pemerintahan. Tanpa itu maka roda organisasi tidak akan berputar. Alasan bagi absennya proses regenerasi bermacam-macam, salah satunya yang terpenting ialah tidak adanya mekanisme bagi proses itu sendiri.

Maka Pilkada sebagai kegiatan yang berlangsung secara berkala menyediakan ruang bagi terjadinya proses regenerasi kepemimpinan lokal secara alamiah, damai dan tanpa paksaan.

Dalam mekanisme ini, terkandung pengakuan bahwa kita memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cukup banyak dan mumpuni untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didaerah masing-masing. Mumpuni dalam arti ia memahami masalah-masalah yang dihadapi daerahnya, dan berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk kesejahtraan rakyatnya; memiliki kemampuan dalam menjalankan manajemen organisasi; dan mampu menjalin sinergi dengan berbagai pihak.

Dengan begitu proses regenerasi kepemimpinan lokal akan memiliki dampak positif yang besar bagi capaian-capaian pembangunan dan kemajuan didaerah.

Baca Juga:  Arsene Wenger Sudahi Kariernya di Arsenal pada Akhir Musim

Dalam konteks itu, pemimpin yang lahir dari Pilkada ini telah menyerap berbagai pengalaman dari proses reformasi selama hampir satu generasi terakhir. Karenanya boleh dibilang cukup matang untuk belajar dari kekeliruan dan kekurangan dari para pendahulunya.

Dari tangan mereka, diharapkan akan lahir inovasi dan lompatan-lompatan besar yang bermanfaat bagi daerah (dan secara lebih luas bagi negara), tidak hanya dalam hal berdemokrasi melainkan juga dalam segala aspek kehidupan.

Regenerasi kepemimpinan lokal akan bermakna apabila diletakan arah perubahan yang menyeluruh. Bukankah titik kritis yang dilamatkan pada gerakan reformasi selama ini adalah perubahan setengah hati, dan “kurang radikal”.

Oleh karenanya, kita berharap dari daerah akan lahir para pemimpin tipe renaisans mengingat tantangan krisis kepemimpinan saat ini mengharuskan para pemimpin memiliki pola pikir global dan lokal sekaligus. Jika masa renaisans tersebut sebagai masa pencerahan yang memberi cahaya dalam kegelapan, maka proses regenerasi kepemimpinan lokal melalui Pilkada Serentak kali ini, mestinya juga dapat dipandang sebagai panggung pencerahan.

*(Penulis adalah mahasiswa asal Kabupaten Lanny Jaya yang sedang menempuh Studi Pascasarjana Ilmu Politik di Universitas Nasional Jakarta)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*