Per April di Riau Sudah 1.647 Hektar Hutan Terbakar, Berpotensi Ganggu Asian Games Palembang !

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

ilustrasi kebakaran hutan

LINGKARPAPUA.COM, RIAU– Permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seakan tak ada hentinya. Setiap tahunnya, saat memasuki musim kemarau, hal yang sama selalu terulang kembali seperti yang terjadi di wilayah Sumatera saat ini.

Luas wilayah hutan dan lahan yang terbakar pun bisa mencapai ratusan hingga ribuan hektar. Akankah karhutla di tahun 2018 lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya ?

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal tahun 2018 hingga saat ini, luas lahan yang terbakar semakin meluas. Provinsi Riau menjadi wilayah terbesar dari kejadian karhutla.

Seperti di lansir laman kompas.com, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kebakaran hutan dan lahan di bulan April sudah terjadi di 11 daerah dari 12 kabupaten dan kota di Riau.

Dalam laman mongabay.co.id juga disebutkan pada Februari lalu Plt Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim sampai harus menetapkan status siaga darurat di empat kabupaten di Riau, seperti Indragili Hilir, Bengkalis, Pelalalwa dan Kepulauan Meranti.

Meluasnya wilayah yang terbakar disinyalir karena keterbatasan peralatan pemadam kebakar yang dimiliki dan sulitnya mencari sumber air terdekat dari titik api.

Baca Juga:  Bupati Markum Jabat Kamabicab Kwarcab Keerom

Di bulan April, menurut data dari BPBD, total luas wilayah kebakaran hutan mencapai 1.647,36 hektar dan terus terjadi, 11 wilayah yang menjadi lokasi kebakaran adalah Rokan Hulu 1 ha, Rokan Hilir 80.75 ha, Dumai 114.25 ha, Bengkalis 160.5 ha, Kepulauan Meranti 896.61 ha, Siak 131.5 ha, Pekanbaru 31 ha, Kampar 19.25 ha, Pelalawan 60 ha, Indragiri Hilir 121.5 ha, dan Indragiri Hulu 31 ha.

Dalam lansiran kompas.com, disebutkan besarnya luas hutan dan lahan yang terbakar, membuat upaya pemadaman kebakaran lahan harus dilakukan dengan petugas gabungan antara TNI, Polri, BPBD hingga pihak swasta. Hal tersebut diutarakan oleh Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Gafur.

“Personel dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Sinarmas, dan masyarakat peduli api (MPA). Semua petugas berjibaku mematikan api dengan sejumlah peralatan,” kata Jim, dikutip dari kompas.com, Selasa (10/4/2018).

Berbeda dengan penanganan karhutla di awal tahun 2018, pada penanganan kali ini, dikerahkan dua helikopter Super Puma untuk melakukan water bombing milih Sinarmas.

Baca Juga:  Banyak Proyek Belum Dibayar, Pengusaha Mengeluh

Water boombing kita lakukan, karena titik api cukup sulit dijangkau. Apalagi lahan yang terbakar terdapat semak belukar dan bergambut. Kendala itu juga akan berisiko bagi petugas. Sehingga, tim tetap berhati-hati,” ungkap Jim, dikutip dari kompas.com.

Meluasnya kebakaran hutan di Riau ternyata juga memunculkan kekhawatiran lain. Dampak asap yang disebabkan karhutla dikhawatirkan mengganggu kesiapan maupun jalannya perhelatan akbar Asian Games 2018 yang akan berlangsung pada 18 Agustus 2018. Pasalnya, salah satu venue Asian Games berada di kota Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut pantauan Greenpeace yang mengutip dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam lansiran laman tirto.id, memprediksi akan terjadi peningkatan titik panas dan skala kebakaran hutan pada bulan Mei hingga Oktober mendatang.

Asep Komarudin, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia mengatakan kebakaran yang terjadi sejak awal tahun menjadi peringatan untuk pemerintah maupun pihak terkaitnya mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan.

“Awal tahun ini saja, titik panasnya meningkat lagi, Menteri LHK bilang sampai 20 persen,” tambah Asep, mengutip pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, akhir Februari kemarin. Hal ini penting untuk jadi peringatan, ujar Asep dikutip dari tirto.id, Jumat (6/4/2018)

Baca Juga:  Polsek Bonggo Musnahkan 754 Botol Miras Hasil Operasi Lilin Matoa 2016

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya kebakaran hutan seakan sudah menjadi langganan bencana di Indoesia dimana terjadi hampir setiap tahun. Apalagi jika berkaca dari peristiwa kebakaran besar yang melanda hutan dan lahan di beberapa provinsi.

Peristiwa bersejarah itu pun membuat Indonesia menjadi pemberitaan media-media internasional karena asap akibat kebakaran menjalar hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara.   Pada saat itu sekitar 2,6 juta hektar hutan, lahan dan gambut terbakar dengan kerugian lingkungan mencapai 295 juta dolar Amerika Serikat.

Masih dalam lansiran laman tirto.id juga, laporan World Resources Institute mencatat sejak 2011, 44 persen kebakaran hutan terjadi di Sumatera Selatan, Riau dan Kalimantan Tengah. Menurut data yang dikeluarkan LAPAN, di provinsi Sumatera Selatan sendiri terdapat 17 titik panas yang berjarak “hanya” 57 kilometer dari tempat digelarnya Asian Games. (***)

Penulis            : Narada Putra
Editor             : Walhamri Wahid

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*