AMPERA dan IJTI Minta Kita Jangan Jadi Kaki Tangan Teroris Ikut Sebar Foto dan Video Korban Bom

(dari kiri) Stenly Salamahu Sayuri, Ketua Umum Ampera Papua, Meirto Tangkepayung, Ketua IJTI Papua dan Sekretarisnya Ryanto Nay. (Foto: Repro/Lingkar Papua)

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA– Mencermati peristiwa ledakan bom di Surabaya Minggu pagi (13/5/2018), Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat (AmpeRa) Papua mengecam keras aksi biadab tersebut.

Kepada wartawan di Jayapura, Stenly Salamahu Sayuri, Ketua Umum Ampera Papua mengatakan, peristiwa tersebut merupakan tindakan terorisme yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis.

Pihaknya juga meminta kepolisian mengusut pelaku pengeboman dan jaringan teroris yang berupaya memecah belah NKRI.

“Kami juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia dan Papua khususnya untuk tidak menjadi alat terorisme yang menyebarluaskan foto dan informasi yang bermuatan ujaran kebencian dan provokatif, yang merupakan tujuan dari terror itu sendiri,” kata Stenly, Minggu (13/5/2018).

Baca Juga:  Pilkada DKI dan Politik Non Blok Demokrat

Selain itu Ampera  juga berencana melaksanakan Aksi Solidaritas pada 19 Mei 2018 sekaligus menyongsong Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 2018.

Menyikapi peristiwa bom di Surabaya, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) melalui pernyataan sikapnya yang di tanda tangani Yadi Hendriana dan Indria Purnama Hadi sebagai Ketua dan Sekjen Pengurus Pusat IJTI menyerukan 8 poin yang menjadi perhatian tak terkecuali bagi para jurnalis sendiri.

Adapun delapan poin tersebut  yakni, (1) IJTI mengutuk keras tindakan biadab pelaku pengeboman, terorisme adalah kejahatan luar biasa dan tidak dibenarkan oleh agama manapun,  (2) IJTI meminta seluruh jurnalis TV berpegang teguh pada kode etik dan P3SPS dalam meliput peristiwa teror bom di Surabaya.

Baca Juga:  SMANKOR JAYAPURA, SEKOLAH ATLIT TANPA FASILITAS OLAHRAGA

(3) Tidak mengeksploitasi visual berdarah korban tragedi bom dilayar kaca, (4) Memverifikasi dan mengkonfirmasi setiap informasi terkait teror bom secara benar sebelum dipublikasi, (5) Tidak ikut menyebarkan dan men-share gambar atau video korban teror bom di media sosial atau aplikasi percakapan. (6) Tidak menggunakan narasumber yang bisa memperkeruh situasi

(7) Selain menggali persoalan teror yang sebenarnya, jurnalis harus mendorong dan mendukung aparat kepolisian menangani kasus ini secara menyeluruh dan tuntas, dan (8) Jurnalis harus ikut serta menjaga stabilitas nasional, dengan terus menumbuhkan harapan serta tidak menimbulkan ketakutan dimasyarakat.

“untuk kita yang di Papua, saya berharap teman – teman jurnalis juga tidak ikut – ikutan menyebar luaskan atau share foto atau video korban terror bom di media social, karena itu sama saja kita juga menjadi kaki tangan dari para teroris, menebar terror dan ketakutan”, kata Meirto Tangkepayung, Ketua IJTI Papua di damping Sekretarisnya Ryanto Nay. (***)

Baca Juga:  Pulsa Elektrik dan Listrik Prabayar Tidak Ada Satuan Ukurnya

Reporter         : Faizal Narwawan
Editor             : Walhamri Wahid

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*