Elektabilitas Capres di Mata 7 Lembaga Survei pada Kuartal Pertama 2018

Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunggang kuda disela-sela pertemuan di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor dua tahun lalu, (Foto : Puspa Perwitasari /Antara Foto, beritagar.id)

LINGKARPAPUA.COM, JAKARTA—Dari 7 lembaga survey yang melakukan survey di kuartal pertama, periode Februari 2018 sampai Mei 2018, 5 lembaga survey masih menina bobokan Jokowi, bahwa sebagai petahana ia tetap teratas dan tidak terkalahkan, 1 lembaga survey memberikan sinyal kuning agar Jokowi tidak terlena dan mewaspadai dianmika dan anomaly politik yang tidak terprediksi, sedangkan 1 lembaga survey menyatakan bahwa bila Pilpres di gelar pada hari ini maka Prabowo akan terpilih sebagai Presiden, Jokowi kalah.

Ketujuh lembaga survey tersebut adalah Indikator, Litbang Kompas, Cyrus Network, dan Poltracking, Roda Tiga Konsultan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI),  dan Indonesia Network Election Survey (INES)

Dari berbagai sumber yang disarikan Lingkar Papua, ada empat lembaga survey yang menempatkan posisi petahana Joko Widodo (Jokowi) di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas Jokowi berada di atas 50%, sedangkan rivalnya Prabowo Subianto tingkat elektabilitasnya masih di bawah 20%.

Survei Poltracking
Survei Poltracking yang di lansir okezone.com, Minggu (28/2/2018) lalu, menunjukkan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto masih menjadi yang tertinggi untuk saat ini sebagai kandidat calon presiden di Pemilihan Presiden 2019.

Menurut Hanta Yudha, Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, bila keduanya bertarung, elektabilitas Jokowi jauh lebih unggul dibandingkan Prabowo, dimana elektabilitas Jokowi di angka 57,6 persen, sedangkan Prabowo Subianto hanya di angka 33,7 persen.

“Trend dan gap elektabilitas kedua figur ini juga tidak terlalu berbeda dengan survei Poltracking sebelumnya (November 2017), yaitu berjarak antara 20%-25% dengan elektabilitas Prabowo berkisar di angka 20%-33% dan elektabilitas Jokowi berkisar di angka 45%-57%,” ujar Hanta di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018), dikutip dari okezone.com.

Pada survei tersebut, dilakukan simulasi terhadap lima nama tokoh yang berpeluang menjadi capres. Hasilnya elektabilitas Jokowi dan Prabowo pun masih berada di atas sejumlah nama seperti Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan Direktur Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Elektabilitas tokoh lainnya masih berada di bawah angka lima persen.

Meski elektabilitasnya cukup tinggi karena sebagai petahana, Hanta tetap mengingatkan elektabilitas Jokowi masih belum aman.

“Jokowi Capres terkuat tetapi masih belum aman sebagai Capres incumben karena elektabilitasnya masih di bawah 60%,” kata Hanta.

Survei Poltracking kali ini dilakukan pada 27 Januari-3 Februari dengan melibatkan 1.200 responden yang di seluruh provinsi di Indonesia. Survei menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error sebesar 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei Litbang Kompas
Dalam lansiran Kompas.com, Senin (23/4/2018), elektabilitas Presiden Joko Widodo mengalami kenaikan. Sedangkan elektabilitas Prabowo Subianto justru mengalami penurunan.

Hasil survey yang dilakukan Litbang Kompas tersebut responden yang memilih Jokowi apabila Pilpres digelar saat ini mencapai 55,9 persen, angka itu meningkat dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, elektabilitas Jokowi masih 46,3 persen.

Sedangkan potensi keterpilihan Prabowo Subianto 14,1 persen, turun dari hasil survei enam bulan lalu yang merekam angka 18,2 persen.

Survei ini dilakukan pada 21 Maret-1 April 2018 sebelum Prabowo menyatakan kesiapannya maju sebagai Calon Presiden di Rakornas Partai Gerindra, 11 April lalu. Penurunan elektabilitas tidak hanya terjadi pada Prabowo, tetapi juga pada calon potensial lainnya.

Gatot Nurmantyo yang sebelumnya dipilih 3,3 persen kini jadi 1,8 persen. Calon lainnya semakin susut keterpilihannya menjadi kurang dari 1 persen. Naiknya elektabilitas Jokowi dan turunnya potensi keterpilihan tokoh-tokoh penantangnya bisa dijelaskan dari dua sisi.

Baca Juga:  Putusan MA 5 Tahun, Pengacara Sudah Ajukan PK, Tapi Sekda Kota Kok Belum di Eksekusi ?

Pertama, naiknya kepuasan terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Kedua, masih kaburnya kepastian calon penantangnya untuk maju dalam Pilpres 2019.

Survei tatap muka ini dilakukan kepada 1.200 responden secara periodik oleh Litbang Kompas pada 21 Maret-1 April 2018. Populasi survei warga Indonesia berusia di atas 17 tahun.

Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi Indonesia dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen, margin of error plus minus 2,8 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.

Survei Cyrus Network
Dikutip dari detik.com, Kamis (19/4/2018) tingkat keterpilihan (elektabilitas) Joko Widodo masih unggul dari calon lainnya, dengan nilai 58,5%, disusul Prabowo Subianto dengan nilai 21,8% sedangkan Gatot Nurmantyo dengan 2 persen.

“Di benak publik, top of mind calon presiden sejauh ini hanya berkutat di dua nama: Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Meski selisih elektabilitas keduanya cukup jauh, namun hingga hari ini Prabowo masih merupakan satu-satunya penantang terkuat Jokowi,” kata Managing Director Cyrus Network dalam keterangan pers, Kamis (19/4/2018), dikutip dari detik.com

Survei Cyrus bertajuk ‘Pemetaan Peluang Capres dan Cawapres Menjelang Pilpres’ ini digelar pada 27 Maret-3 April. Penarikan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling.

Jumlah respondennya sebanyak 1.230 orang, yang tersebar secara proporsional pada 123 desa/kelurahan terpilih di 34 provinsi.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Sedangkan tingkat kepercayaan survei ini adalah 95 persen, dengan margin of error +/- 3 persen.

Adapun berdasarkan hasil survey Cyrus, tingkat elektabilitas seluruh tokoh – tokoh yang namanya beredar saat ini adalah sebagai berikut : (1) Jokowi (56,7 %), (2) Prabowo Subianto (19,8%), (3) Gatot Nurmantyo (3,2%), (4) Hary Tanoe (2,2%), (5) Agus Harimurti Yudhoyono (2,1%), (6) Jusuf Kalla (1,6%), (7) Anies Baswedan (1,6%),

(8) Tuan Guru Bajang (M Zainul Majdi) (1,5%), (9) Mahfud MD (1,5%), (10) Susi Pujiastuti (0,8%), (11) Soekarwo (0,7%), (12) Budi Gunawan (0,6%), (13) Sri Mulyani (0,5%), (14) Muhaimin Iskandar (0,3%), (15) Puan Maharani (0,2%), (16) Zulkifli Hasan (0,2%), (17) Chairul Tanjung (0,2%), (18) Tito Karnavian (0,1%), (19) Moeldoko (0,1%).

Sedangkan dari 1.230 responden sebanyak 4,1 persen menyatakan belum memutuskan, dan sebanyak 0,3 persen menyatakan tidak memilih dan yang tidak menjawab (Rahasia) sebanyak 1,6 persen responden dari total sampel populasi.

Survei Indikator
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI), Burhanuddin Muhtadi mengatakan berdasarkan survey top of mind, persentase keterpilihan Jokowi mencapai 39,9 persen, disusul ketua umum Gerindra Prabowo Subianto 12,1 persen.

“Secara umum saat ini, Jokowi dan Prabowo masih merupakan figur utama dalam peta elektoral. Tapi, Jokowi tetap masih berada di puncak jika pemilihan dilakukan saat ini,” kata Burhanudin di kantor IPI, Jakarta, Kamis, 3 Mei 2018, dikutip dari Tempo.co.

Dalam lansiran Tempo.co, disebutkan selain kedua nama tersebut, ada Anies Baswedan dengan persentase 0,9 persen, Hary Tanoesudibjo 0,9 persen, Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang 0,7 persen, Gatot Nurmantyo 0,7 persen dan nama lainnya.

Dukungan terhadap Jokowi juga mengalami peningkatan dari survei tren top of mind. Pada September 2017, angkat keterpilihan Jokowi hanya 34,2 persen dan meningkat pada Maret 2018 menjadk 39,9 persen. Sedangkan, dukungan Prabowo naik sedikit dengan periode yang sama dari 11,9 persen menjadi 12,1 persen. Prabowo sebagai pesaing utama relatif stagnan.

Selain itu, Jokowi juga tetap berada di urutan puncak sebagai Calon Presiden yang bakal dipilih dengan sistem survei semi terbuka. Dengan sistem survei semi terbuka ini, Jokowi mempunyai tingkat keterpilihan mencapai 51,9 persen. Sedangkan Prabowo 19,2 persen, disusul Anies Baswedan 2,2 persen, AHY 2 persen, Gatot Nurmantyo 1,7 persen, Hary Tanoesudibjo 1,4 persen dan nama lainnya.

Baca Juga:  Perhatikan Kualitas Rem Kendaraan

Masih hasil survey Indikator dalam lansiran Kompas.com, Jokowi dan Prabowo masih yang teratas saat simulasi 4 nama dan 3 nama, selanjutnya saat di lakukan simulasi 2 nama atau head to head antara Jokowi dan Prabowo, 60,6 persen responden memilih Jokowi, sementara 29 persen memilih Prabowo. Adapun 10,4 persen tidak menjawab.

Hasil ini bila dibandingkan dengan survei Indikator September 2017 lalu menunjukan adanya peningkatan elektabilitas Jokowi sementara elektabilitas Prabowo justru menurun.

Pada survei Indikator September 2017, saat simulasi “head to head”, Jokowi mendapatkan 58,9 persen suara responden, sementara Prabowo mendapatkan 31,3 persen.

Survei ini dilakukan pada 25-31 Maret 2018 dengan responden sebanyak 1.200 orang. Margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan asumsi simple random sampling.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara lndonesia yang yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah bemmur 17 tahun atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Dari populasi itu dipilih secara random menggunakan metode multistage random sampling. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Quality control herhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). “Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.”

Survei RTK
Survei Roda Tiga Konsultan (RTK) menunjukkan Joko Widodo atau Jokowi mengalami tren kenaikan elektabilitas bila dibandingkan dengan survei pada September 2017.

“Elektabilitas Jokowi naik dari survei September 2017 dari 36,6 persen menjadi 48,2 persen pada April 2018,” ujar Direktur Riset dan Data RTK Rikola Fedri di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis, 10 Mei 2018, dikutip dari Tempo.co

Sementara itu, pesaing terdekat Jokowi, Prabowo Subianto memiliki elektabilitas yang stagnan. Pada survei pilihan tertutup, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu meraih elektabilitas 22 persen pada September 2017 dan April 2018. Pada survei pertanyaan spontan, suara Prabowo naik tipis dari 17,4 persen menjadi 20,5 persen.

Pada survei April 2018, pemilih yang belum menentukan pilihan secara umum turun dari 26,4 persen pada September 2017 menjadi 17,1 persen.

Adapun dari 48,2 persen pemilih Jokowi saat ini, hanya 35,5 persen yang menyatakan mantap memilih mantan gubernur DKI tersebut. Sementara itu, dari 22 persen pemilih Prabowo, hanya 16,6 persen yang menyatakan mantap memilih. Sementara dari 4,2 persen pemilih Agus Harimurti Yudhoyono, 2,7 persen menyatakan mantap memilih.

Berdasarkan survei yang sama, elektabilitas Jokowi masih jadi yang paling tinggi ketimbang tokoh lainnya. Rikola mengatakan, jika Pilpres digelar hari ini, Jokowi dipilih oleh 38,2 persen responden, sementara Prabowo dipilih oleh 20,5 persen.

Rikola menyampaikan survei mengenai peluang capres-cawapres dan elektabilitas parpol tersebut dilakukan pada 21 April 2018 hingga 2 Mei 2018. Metode yang dilakukan, kata dia, adalah dengan stratified systemic random sampling dengan responden sebanyak 1.601 orang dan margin of error 2,5 persen.

Survei LSI
Lingkaran Survei Indonesia milik Denny J.A, dalam lansiran viva.co.id, Senin (14/5/2018) menyebut tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi sebagai calon Presiden masih mandek atau stagnan di bawah 50 persen. Selaku incumbent, posisi itu dinilai masih belum kuat karena beberapa penantang Jokowi belum masif turun ke masyarakat.

Hasil survei menunjukkan elektabiltas Jokowi 46 persen, sementara kandidat penantang jika disimulasikan gabungan 12 tokoh, berada di angka 44,7 persen. LSI mengasumsikan survei ini, jika Jokowi dan lawannya saling bertarung dengan komposisi ‘head to head’.

“Karena sebagai petahana, harusnya memang elektabilitas minimal di atas 50 persen. Artinya hanya berbeda 2 persen saja, antara elektabilitas Jokowi versus elektabilitas semua capres lainnnya,” peneliti LSI Adji Alfaraby saat menyampaikan keterangan pers di kantornya Jalan Pemuda Raya, Jakarta, Senin 14 Mei 2018, dikutip dari viva.co.id

Baca Juga:  Nilai Manajemen Administrasi Yang Sakit, Penjabat Gubernur Tempatkan Orang Inspektorat Sebagai Plt Direktur RSUD Dok II

Adjie menjelaskan, alasan lembaganya mensimulasi pemilihan presiden diikuti dua pasangan calon. Hampir semua 12 tokoh itu sama-sama menginginkan adanya pergantian kepemimpinan nasional. Namun ia memandang, kans agar Jokowi dapat dikalahkan bisa terjadi apabila beberapa poros kekuatan bersatu.

“Probabaility (peluang) 50 vs 50. Jokowi bisa dikalahkan jika kekuatan oposisinya bersatu. SBY, Prabowo, Amien Rais dan Gatot perlu bersatu jika ingin kalahkan Jokowi,” katanya kepada viva.co.id.

Adjie pun menjabarkan, lima faktor Jokowi masih unggul, namun dalam berbagai survei elektabilitasnya tergerus oleh sejumlah isu.

Isu – isu itu dinilai LSI mulai efektif digerakan oleh kelompok oposisi diantaranya; tagar #2019GantiPreside, tenaga kerja asing, ekonomi, pemilih dari kalangan Islam dan apakah Jokowi masih bisa dikalahkan. Adji mengakui, kelima isu utama ini belum masif lantaran masih gamangnya penantang dapat maju di Pilpres.

Dalam survei, LSI memilih 1.200 responden dengan metode multi stage random sampling yang dilakukan pada 28 April-5 Mei 2018. Adapun penelitian digelar di 34 Provinsi dan margin of error sekitar 2,9 persen.

Survei INES
Berbeda dengan 6 lembaga survey lainnya yang masih menjagokan Jokowi dengan elektabilitas tertinggi, hasil survey Indonesia Netrwork Election Survey (INES) yang dilakukan pada 12 hingga 28 April 2018 dengan responden sebanyak 2.180 orang di 408 kabupaten dan kota menempatkan Prabowo Subianto sebagai pemenang bila Pilpres di gelar hari ini dengan prosentase 50,2 persen sedangkan Jokowi hanya mampu mendapatkan 27,7 persen dari total responden.

Dalam lansiran CNNIndonesia.com, hasil yang sama juga terjadi jika survei dilakukan secara tertutup, yakni hanya mengerucutkan nama ke beberapa pilihan. Tercatat, 54,5 persen responden memilih Prabowo Subianto dan 26,1 persen memiih Jokowi jika pemilihan Presiden dilakukan hari ini.

Oskar mengatakan, hasil survei ini merupakan tindak lanjut dari survei sebelumnya, di mana 67,3 persen dari responden ingin memiliki presiden baru, sementara 21,3 persen responden masih ingin melihat Jokowi menduduki kursi nomor satu di Indonesia.

“Dari 54 janji kampanye Jokowi, kami mengidentifikasi sembilan janji yang paling diingat responden. 19,5 persen menyatakan janji itu dipenuhi, tapi 68,2 persen menyatakan Jokowi tidak menepati janji. Ini yang kemudian mempengaruhi hasil survei,” jelas Oskar, Minggu (6/5), dikutip dari CNNIndonesia.com

Sebagian besar ketidakpuasan responden terdapat dari segi ekonomi, di mana 75,7 persen responden menganggap Jokowi tidak mampu menurunkan harga beras, 71,7 persen responden menganggap lapangan kerja semakin berkurang, dan 72,7 persen responden khawatir atas utang negara yang kian menggunung.

“Kebanyakan responden juga mengaku mendapatkan info dari media sosial. Nah, fenomena media sosial ini bikin pergerakan elektabilitas cenderung dinamis, jadi mereka bisa terpengaruh dengan isu yang dibawa oposisi,” ucap dia kepada CNNIndonesia.com

Selain mengukur elektabilitas presiden, INES juga mencermati peluang nama-nama calon Wakil Presiden yang bisa berlaga di Pilpres 2019. Berdasarkan survei top of mind, INES menemukan bahwa 20,2 persen responden menganggap Muhaimin Iskandar cocok diangkat sebagai cawapres. Nama itu kemudian disusul oleh Airlangga Hartarto dengan porsi 17,4 persen.

Oskar menambahkan, selain soal janji kampanye yang tak ditepati, responden yang disurvei lebih memilih Prabowo jadi presiden jika pemilihan dilakukan hari ini karena pengaruh kampanye media sosial #2019GantiPresiden.

Sementara melalui survei tertutup, 21,4 persen responden masih memilih Muhaimin sebagai cawapres jika pilpres dilakukan saat ini. Oskar mengatakan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sebagai punggawa partai politik yang sudah punya pengalaman di pemerintahan.

Tercatat, Muhaimin pernah menduduki Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di tahun 2009 hingga 2014 silam di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selain itu ia juga dianggap sebagai kaum Nahdiyin yang berpengalaman, sehingga responden memilih dia dibanding nama lainnya. (***)

Penulis            : Nugroho
Editor             : Walhamri Wahid

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*