Pantau 24 Jam, Polda Papua Nilai Belum Ada kegiatan JUT Yang Mencurigakan, Ini Aktifitas JUT Setelah Laskar Jihad Bubar !

Jafar Umar Thalib (JUT) ketika berdialog bersama Forkompimda Kabupaten Keerom beberapa waktu lalu, kehadiran mantan pentolan Laskar Jihad yang sudah bubar itu selalu di tengarai akan memperkeruh situasi kerukunan antar umat beragama di Papua, sehingga menimbulkan pro dan kontra. (Foto : dok Lingkar Papua)

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA—Sepak terjangnya di tahun 2000 saat memimpin Laskar Jihad dalam konflik bernuansa SARA di Ambon rupanya masih menyisakan ketakutan dan traumatis di publik, meski pasca pembubaran Laskar Jihad di tahun 2002 seiring meredanya kerusuhan Ambon, Uztad kharismatis itu kini lebih menekuni kegiatan dakwah dengan cara modern dan damai, namun kehadirannya masih saja di curigai banyak pihak akan menyebar luaskan paham radikalisme dan akan mengancam kerukunan antar umat beragama yang sudah terjalin baik saat ini.

Termasuk kehadirannya di Papua beberapa hari lalu yang menghebohkan jagat maya, karena foto kedatangannya Jafar Umar Thalin (JUT) tiba di Bandara Sentani ramai beredar di social media dengan komentar beragam dan mencurigai bahkan terkesan mengkaitkan kehadirannya dengan peristiwa teror bom di Indonesia sepekan terakhir ini. .

Kehadiran JUT di Kota Jayapura, Papua yang setibanya di Bandara Sentani langsung menuju ke kediamannya di Pondok Pesantren Ihya As- Sunnah Kampung Wulukubum Arso XIV Kabupaten Keerom, dan hingga hari ini kehadiran JUT juga mengdapatkan pengawasan dan pemantauan dari aparat kepolisian.

“kami akan memantau dan mengawasi aktifitas beliau 1 x 24 jam, karena Polri punya kewenangan dan kewajiban untuk melakukan itu terhadap individu ataupun kelompok yang di duga berpotensi memunculkan hal – hal yang tidak di inginkan orang Papua, termasuk aktifitas JUT”, kata Irjen (Pol) Boy Rafli Amar, Kapolda Papua usai pertemuan bersama MRP yang juga menyampaikan keresahan masyarakat atas kehadiran JUT di Jayapura selama ini.

Kapolda Papua menegaskan bahwa sejauh ini dan selama ini hasil pantauan Polda Papua tidak ada aktifitas ataupun kegiatan JUT yang patut di duga melanggar hukum atau menjurus ke hal – hal yang di khawatirkan, karena bila ada yang mencurigakan pastilah kepolisian akan melakukan tindakan.

“pengawasan dan pemantauan ini kita lakukan mulai dari masuk Papua, turun dari bandara hingga aktifitas lainnya, dan itu bentuk pengawasan, kita ini kan negara hukum, jadi semuanya harus sesuai aturan hukum”, kata Kapolda kepada awak media usai pertemuan bersama MRP, Jumat (18/5/2018), menjawab keresahan masyarakat terkait kehadiran JUT.

Kapolda juga menegaskan sejauh ini, keberadaan JUT di Kabupaten Keerom, belum ada laporan atau pantauan yang mengarah pada pelanggaran dan perbuatan tindak pidana, namun Boy Rafli Amar mengakui, pihaknya mengetahui ada pro kontra soal kehadiran Ponpes Jafar Umar Thalib di Keerom, namun itu bukan ranah kepolisian, tetapi ranahnya Pemda setempat, dan belum mengarah pada tindak pidana kriminal.

“sejauh ini indikasi pelanggaran ke masalah pidana belum ada, oleh sebab itu jika indikasi lainnya, itu wajib di kelola. Intinya bagaimana keharmonisan masyarakat ini harus dijaga, Polda Papua dorong masyarakat dan semua pihak hidup harmonis di tanah ini”, kata Irjen (Pol) Boy Rafli Amar, Kapolda Papua menegaskan bahwa tindakan polisi kepada semua warga negara sama dan harus berdasarkan hukum,  sehingga polisi tidak boleh sewenang-wenang apalagi melampaui batas.

Baca Juga:  Murid Madrasah Ini Dua Kali Sabet Medali Perunggu Kejuaraan Matematika Internasional

Kehadiran Jafar Umar Thalib yang sudah pensiun dari aktifitas militan saat memimpin Laskar Jihad di Ambon, 18 tahun lalu menjadi pro dan kontra di Kota Jayapura selama ini, dimana niatnya berkontribusi bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan umat islam dengan mendirikan Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah di Keerom dituding dan di curigai akan menimbulkan konflik antar agama seperti yang terjadi di Ambon dan Poso 18 tahun lalu, bukan dari kalangan non muslim saja, bahkan saudara sesama muslim pun menganggap kehadirannya di Jayapura akan menimbulkan konflik dan masalah yang berpotensi memecah belah kerukunan antar umat beragama yang sudah terjalin baik.

Meski pada kenyataannya hingga tiga tahun kehadiran Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah, bahkan bolak – balik JUT keluar masuk Jayapura untuk berdakwah, belum ada satupun laporan kepolisian yang menunjukkan bahwa kekhawatiran sejumlah pihak itu ada benarnya.

Jafar Umar Thalib, kelahiran Malang, 29 Desember 1961 adalah pendiri Laskar Jihad, ketika kerusuhan antar agama pecah di Ambon sekitar tahun 2.000-an.

Ia sempat menuntut ilmu di Yaman, pada tahun 1993 pulang dari Yaman ia mendirikan pesantren dengan nama Ihya As Sunnah di Dusun Degolan, Sleman, Yogjakarta, dan hingga kini pesantren tersebut terus berkembang dan membuka cabang di beberapa daerah, salah satunya di Kabupaten Keerom, Papua sejak tahun 2016.

Enam tahun setelah Laskar Jihad dibubarkan, dalam sebuah wawancara khusus dengan wartawan Jawa Pos, Minggu, 8 Juni 2008, JUT menegaskan sikapnya yang tidak setuju dengan adanya aksi – aksi terror bom dan sejumlah kekerasan lainnya yang mengatas namakan islam dan istilah jihad.

JUT mengatakan bahwa itu disebabkan kurangnya pemahaman tentang Islam secara mendalam. Sebab, pada dasarnya, Islam mengajarkan kasih sayang, kesejukan, dan kelembutan. Bukan aksi brutal dan anarkis.

”Tidak ada dalam Alquran yang mengajarkan kita untuk berbuat anarkis. Semuanya mengajarkan kasih sayang,” katanya.

Soal alasan jihad yang sering dipakai dasar bertindak oleh umat, Ja’far juga menanggapinya dengan kritis. Kata dia, untuk menentukan apakah perbuatan tersebut masuk kategori jihad itu tidak gampang. Selain memerlukan kajian keilmuan, juga harus diputuskan dengan pertimbangan para ulama dengan kajian yang matang.

Ja’far mengakui, saat dirinya memimpin Laskar Jihad dulu, ada upaya untuk membelokkan opini dan menyudutkan gerakan yang dilakukannya.

“Tudingan Islam garis keras hingga ekstremis dialamatkan kepada kami. Namun, kami tidak gentar,” tegasnya, dikutip dari Jawa Pos, Minggu, 8 Juni 2008.

Menurutnya, perjuangan yang dilakukan di Maluku dan Poso dulu adalah jihad, sebab, saat itu terjadi penganiayaan dan penindasan terhadap umat Islam. Saat itu, umat Islam yang minoritas di daerah tersebut dibantai oleh kelompok yang mencoba melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jadi situasinya berbeda dengan terror bom dan sejumlah kekerasan yang di lakukan beberapa kelompok saat ini.

”Namun, yang berkembang di masyarakat, perselisihan antara gama dan ras. Padahal, kami melakukan ini karena tidak adanya sikap tegas dari pemerintah ketika itu,” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Desember 1961 tersebut.

Baca Juga:  Ditengok Jokowi, Osman Marbun Janji Jembatan Holtekamp Jadi ‘Bingkisan Natal’ Bagi Papua

Munculnya reaksi masyarakat itu, termasuk adanya Laskar Jihad, menurut dia, akibat lambannya pemerintah memberikan perlindungan dan merespons persoalan yang terjadi.

”Coba kalau pemerintah tegas, masyarakat tidak akan main hakim sendiri,” tegasnya.

Ketidaktegasan pemerintah itu, katanya, juga dipicu adanya kegamangan para pemegang kebijakan dalam menentukan sikap. Sebab, mereka dibayangi ancaman pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pelanggaran demokrasi.

”Demokrasi bukan berarti tidak bisa tegas, tapi mengakomodasi semuanya. Ini tantangan bagi para pemegang kebijakan,” tuturnya.

Ustad Ja’far kini makin fokus mengurusi pondok dan dakwah. Alumnus Pesantren Al-Irsyad yang lama sekolah di Timur Tengah itu kini juga sering keliling Indonesia. Biasanya, dia memberikan bimbingan kajian Islam intensif di berbagai kota.

Dalam berbagai kesempatan juga JUT menegaskan bahwa Laskar Jihad tidak bertujuan mendirikan negara islam atau menghabisi umat non muslim, tetapi kehadiran Laskar Jihad ketika itu untuk melindungi umat islam yang dalam kondisi tak berdaya, dan teraniaya.

Bahkan dalam lansiran Tribunnews.com, Kamis (14/8/2014) Jafar Umar Thalib pernah mengusir Panglima ISIS Pasuruan, Salim Mubarok Attamimi ketika hendak bergabung ke Laskar Jihad ketika itu, karena di nilai pahamnya yang terlalu radikal, terutama mengenai masalah kekerasan dalam menentang Pemerintah dan menyerukan jihad untuk mendirikan Negara Islam.

Seperti di lansir Tribunnews.com, Kamis (14/8/2014) penuturan Abdullah teman dan tetangga Salim Mubarok Attamimi di Pasuruan bahwa Salim pernah bergabung dengan Laskar Jihad namun diusir oleh Ustadz Umar Ja’far Tholib.

“Mungkin waktu itu aqidahnya belum benar. Akhirnya disuruh pulang ke sini, suruh belajar lagi,” kata Abdullah, dikutip dari Tribunnews.com.

Jafar Umar Thalib juga pernah diberitakan bertemu langsung dengan dedengkot teroris Osamah bin Laden, bahkan ketika itu Osamah menawarkan sejumlah bantuan untuk pesantren JUT, namun di tolak JUT karena menurutnya pemahaman Osamah soal jihad berbeda dengan yang ia yakini.

Laskar Jihad yang dibentuk 30 Januari 2000 sebagai tanggapan atas kekerasan agama antara kaum muslimin dan nasrani di Maluku, merupakan sayap paramiliter dari Forum Komunikasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (FKAWJ) yang didirikan dua tahun sebelumnya.

FKAWJ secara formal didirikan oleh Ja’far Umar Thalib, ketika dia dan para pengikutnya mengadakan tabligh akbar di Solo, Jawa Tengah, 14 Pebruari 1998, dan hingga FKAWJ dibubarkan tidak pernah berbenturan dengan pemerintah, apalagi dinyatakan sebagai organisasi terlarang, meski salah satu pendirinya adalah Jafar Umar Thalib.

Berkenaan dengan mobilisasi para pejuang Laskar Jihad ke Ambon dan Poso ketika itu, Greg Fealy mencatat bahwa Ja’far Umar Thalib berkata : “saya cuma menjalankan tugas saya sebagai seorang muslim, karena jelas-jelas pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak mampu melindungi komunitas Islam di daerah tersebut yang teraniaya, jika negara ini tidak bisa melindungi kami (yaitu Muslim), maka kami harus melakukannya sendiri”.

Namun eksistensi Laskar Jihad akhirnya berakhir saat pertemuan awal pengurus FKAWJ antara 30 September – 2 Oktober 2002, diikuti dengan pertemuan kedua, di periode 3 dan 5 Oktober 2002, Dewan Eksekutif FKAWJ akhirnya memutuskan untuk membubarkan FKAWJ dan Laskar Jihad.

Baca Juga:  Seminggu, Polres Jayapura Kota Tangkap Lima Ibu Rumah Tangga Terkait Perjudian

Di masa – masa itu juga JUT tengah menjalani tahanan polisi dengan tuduhan menghina pemerintah dan kepala negara, namun dalam proses persidangan tuduhan tersebut tidak terbukti dan akhirnya ia dibebaskan oleh Hakim.

Adapun pertimbangan pembubaran FKAWJ dan Laskar Jihad ketika itu : Pertama, tujuan utama pembentukan FKAWJ dan Laskar Jihad adalah untuk berjihad di Maluku, berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan fatwa mufti salafi.

Kedua, dalam berjihad, FKAWJ dan Laskar Jihadnya selalu berusaha mengevaluasi dan mengoreksi diri sendiri seperti yang disarankan oleh para mufti salafi. Ketiga, dalam menilai Jihad, tampaknya kelemahan-kelemahan dan kurangnya kemampuan FKAWJ dan Laskar Jihad berakibat terjadinya kesalahan atau penyimpangan (cetak miring oleh penulis) dari metodologi dan moralitas.

Keempat, kami bertobat pada Allah SWT. atas seluruh kesalahan, penyimpangan dan kekeliruan (cetak miring oleh penulis) yang membuat kami berada dalam situasi-situasi ini.

Menurut Shaikh Muqbil bin Hadi al-Wadii, seorang mufti salafi ternama di Yaman, tidak terdapat alasan cukup untuk melanjutkan mengobarkan jihad di Ambon, sehingga pengurus FKAWJ dan Laskar Jihad akhirnya mendiskusikan fatwa ini dan memutuskan untuk membubarkan Laskar Jihad.

Dalam lansiran TempoInteraktif.co.id, Selasa (15/10/2002) menurut dr. Fauzi, AR Ketua Ahlus Sunnah wal Jamaah Medicine (Ahmed) yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Yogyakarta di era 2002, pembentukan Laskar Jihad ketika dibentuk dalam siatuasi darurat ketika terjadi kerusuhan di Ambon dan Maluku, namun karena situasinya sudah aman maka Laskar Jihad dibubarkan.

“Tapi karena sekarang sudah aman, ya tidak ada masalah kalau kemudian dibubarkan”, kata Fauzi, diktuip dari Tempo Interaktif.co.id, Selasa (15/10/2002)

Semenjak pembubaran Laskar Jihad itulah, JUT lebih focus mengurusi Ponpes Ihya As-Sunnah miliknya yang kian berkembang bahkan sampai ke Papua,

Wartawan Jawa Pos yang sempat mengunjungi langsung Ponpes Ihya As-Sunnah milik JUT di Dusun Degolan, Sleman, Yogjakarta, Minggu, 8 Juni 2008 melaporkan pesantren yang berdiri sejak 1990 itu mempunyai fasilitas cukup lengkap.

Di kantor sekretariat terdapat komputer yang hampir 24 jam per hari tersambung dengan internet. Sebab, Ihya’ As Sunnah adalah salah satu di antara sedikit pesantren yang memiliki website sendiri (alghuroba.org).

Dari tempat itulah, website tersebut dikelola. Termasuk memberikan respons kepada para pengakses yang bertanya tentang berbagai topik agama.

Pesantren tersebut juga memiliki aula yang cukup luas serta kolam renang. Agar tubuh tetap bugar, para santri biasa berenang di kolam renang berukuran 35 x 20 meter di sebelah barat pondok itu pada pukul 08.00-09.00 atau setelah salat Asar pada sore hari. ”Ini bedanya dengan pesantren lain. Di sini santri juga terbiasa berenang,” ujar Fikri.

Materi pengajaran yang diberikan pesantren, lanjut Fikri, merujuk pada kitab-kitab karya ulama salaf, seperti Majemuk Fatawa, Tafsir As Sa’di, Syarkhus Sunnah Al Baghowi, dan Fathul Madjid. Namun, metode pemahaman yang diberikan Ustad Ja’far kepada santri berbeda dengan pesantren salaf kebanyakan.

Ada tiga bidang utama pengajaran di pesantren tersebut. Yakni tahfidhul Qur’an (hafalan Alquran), tadribud du’at (manajemen dakwah), dan tarbiyatun nissa (pengajaran perempuan). Santri mengaji sehabis subuh hingga petang. (***)

Reporter         : Titie, Nugroho
Editor             : Walhamri Wahid

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*