Frans Narigi, Isu ‘Bom’ Lion Air JT 687 dan Melemahnya Solidaritas Papua

Frans Narigi, penumpang pesawat Lion Air JT 687 yang jadi tersangka di Pontianak, karena di duga mengucapkan kata ‘bom’ di dalam pesawat. (Foto :chirpstory.com)

Salah satu keragaman Indonesia adalah beragamnya dialek dan logat dari ratusan suku bangsa yang ada di Indonesia, dan terkadang bisa menimbulkan salah tafsir, apalagi di tengah syak wasangka dan ketakutan yang berlebihan soal terror bom, sehingga ucapan “saya tidak bawa bom’, bisa saja terdengar kata ‘bom’nya saja oleh seseorang, dan diartikan adanya ancaman. Bisa jadi kasus Frans Narigi berangkat dari kekeliruan serupa, jangan biarkan Frans Narigi menghadapi ancaman tuntutan hokuman 8 tahun seorang diri ! Mana solidaritas kita sesame orang Papua ?

Oleh    : Ade Yamin
“Pace, kamu punya teman ada dapat masalah di Pontianak ini”, bunyi pesan yang masuk kedalam kotak pesan Whatsapp saya dari seorang kawan di Pontianak.

Ia begitu bersemangat untuk menyampaikan seakan saya harus tahu bahwa seorang saudara saya sedang tersandung masalah besar di Pontianak. Tentu saja pesan yang dikirim oleh seorang sahabat ini harus saya maknai positif sebagai bentuk solidaritas dan signal untuk bersegera peduli dengan nasib Frans Nirigi (nama ini belakangan saya ketahui setelah membaca berbagai media yang memberitakan peristiwa dibandara Pontianak) yang sedang terlunta dan terjerat hukum dinegeri yang ia tak memiliki sanak family sesama orang Papua.

Ya, saat ini dua hari sudah Frans Nirigi berurusan dengan pihak yang berwajib di Pontianak, untuk mempertanggungjawabkan perkataan yang menurut satu versi adalah akibat mengucapakan kata keramat “bom” di dalam pesawat Lion Air JT 687 tujuan Jakarta.

Sementara itu di lini masa yang lain beredar informasi, justru kru pesawatlah yang salah mendengar perkataan seorang Frans Nirigi, yang berbuntut pada berhamburannya penumpang pesawat tersebut konon untuk mencari selamat dengan membuka pintu darurat dan berlompatan keluar dari pesawat (lihat http://www.beritaterheboh.com/2018/05/bikin-nyesek-dosen-frantinus-nirigi.html diposting 29 mei 2018)

Baca Juga:  Kemendagri ‘Pending’ Proses Pelantikan Bupati Tolikara Terpilih ?

Peristiwa ini mengingatkan saya pada kasus serupa beberapa waktu yang lalu di bandara Sentani dengan maskapai yang sama, saya bersama seorang kawan bernama Martinus Adii asal Deiyai akan bepergian ke Jakarta, ditengah kondisi penumpang berdesakan mencari kursi tempat duduk dan kesibukan menaikan bagasi kedalam kabin pesawat, seorang kru bertanya kepada rekan saya yang sedang memasukan ranselnya kedalam kabin, dan dengan santai ia menjawab “saya tidak bawa bom”.

Tak dinyana, perkataan itu berbuntut panjang, kru pesawat seketika memanggil petugas darat (Avsec), dan tanpa perlu berlama-lama Martinus digiring turun dari pesawat menuju ruang interogasi.

Karena saya mendengar dengan pasti apa yang dikatakan oleh Martinus, saya memutuskan untuk ikut turun menemani dengan konsekuensi saya batal berangkat ke Jakarta.

Setelah melalui banyak konfirmasi dan pertanyaan, serta membuat pernyataan, yang sayangnya kru pesawat yang menginformasikan kepada petugas darat akan perkataan teman saya tak dapat dikonfirmasi pada saat itu, karena pesawat telah mengangkasa, kami pada akhirnya dapat menyelesaikan kasus tersebut dengan jalan damai, dimana kami diperbolehkan untuk ke Jakarta dengan menumpang pesawat dengan maskapai yang sama dengan nomor penerbangan yang berbeda.

Kasus yang menimpa Martinus Adii, sepertinya sangat mirip dengan apa yang dialami oleh Frans Nirigi di Pontianak, perbedaannya hanyalah pada lokasi kejadian dan kepedulian terhadap sesama.

Martinus Adii sangat beruntung karena peristiwanya terjadi di Bandara Sentani, kampung halaman sendiri, sedangkan Frans Nirigi mengalami musibah tersebut ditanah perantauan.

Baca Juga:  Pisang dan Susu Hangat Bisa Bikin Tidur Nyenyak Loh !

Martinus Adii kebetulan bepergian bersama seorang teman yang mau bersaksi untuk pernyataannya didalam pesawat sementara Frans Nirigi harus berjuang sendirian untuk menyatakan kebenaran yang diyakininya, sementara para saksi yang mendengar secara langsung dan melihat peristiwa tersebut lebih senang beropini diluar hukum dan dimedia sosial saja.

Cerita Frans Nirigi dan kata keramat “Bom” dibandara Supadio Pontianak sesungguhnya menjadi contoh betapa solidaritas sesama anak bangsa Indonesia terus tergerus oleh stigmatisasi melalui wacana media maupun pernyataan para politisi.

Trauma berkepanjangan yang ditinggalkan oleh beberapa peristiwa kekerasan dan terorisme menghantui alam bawa sadar setiap orang, sehingga sikap saling curiga (distrust) kini telah menjadi pegangan hidup setiap orang, terutama kepada mereka yang dianggap berbeda dengan dirinya (suku, agama, fisik, pilihan politik, kondisi ekonomi, dll).

Lebih jauh dari itu, peristiwa Frans Nirigi dan isu “Bom” didalam pesawat Lion Air JT 687, memberi kita sebuah penanda, betapa solidaritas sebagai sesama orang Papua mendapatkan ujian yang sesungguhnya.

Rasa setia kawan, senasib sepenanggungan, nampaknya mulai menjauh dari falsafah kehidupan kita masyarakat Papua, terutama bagi orang Asli Papua. Memang jauh sebelum peristiwa senin malam 28 Mei 2018 di Pontianak dengan aktor tunggal Frans Nirigi sebagai pelaku sekaligus korban, telah banyak peristiwa pilu dan menyedihkan terjadi ditengah tengah kita di Papua, dimana orang Asli papua selalu saja banyak yang menjadi korbannya.

Namun yang mengherankan adalah ternyata hanya sedikit saja menarik minat dan empati kita untuk bersuara, apalagi bertindak demi penghargaan terhadap kemanusiaan.

Para akademisi lebih senang berkutat dengan Tridarma yang normative, para ulama, pendeta dan pastor lebih focus pada urusan surga dan neraka, para pegiat kemanusiaan hanya tersisa segelintir orang yang masih memiliki sisa-sisa keberanian untuk mengangkat tangan dan bersuara lantang meneriakan penghargaan terhadap nilai-nilai hakiki sebagai manusia.

Baca Juga:  UNBK SMA di Jayapura, Telkom Jamin Internet Lancar, DPRP Minta Dinas Pendidikan Antisipasi Ujian Pake Kertas

Sementara itu para aktivis dan politisi sibuk berebut buah dari pohon politik praktis yang sekarang sedang tumbuh subur di Papua bersamaan dengan momentum Pilkada serentak Gubernur dan Bupati.

Mungkin saja karena Frans Nirigi belum memiliki afiliasi politik, atau barangkali ia bukanlah tim sukses partai politik dan kandidat gubernur dan bupati tertentu, sehingga keberadaannya bagaikan remah-remah tak memiliki makna bagi para pemegang kekuasaan? Benar atau salah kasus Frans Nirigi tentu kita serahkan kepada proses hukum yang berlaku, tetapi sebagai sesama anak-anak yang lahir dari Rahim Papua, tumbuh, berkembang dan hidup dari hasil bumi Papua, rasanya kita telah berlaku aniaya kepada Frans Nirigi, apabila ia kita biarkan menghadapi proses ini sendirian.

Kasus Frans Nirigi ini seharusnya menjadi martir dan batu loncatan yang cukup kuat bagi kita yang mau berpikir, bahwa Tuhan tidak pernah akan merubah Nasib dan keadaan sebuah bangsa, jika bangsa tersebut tidak mau bersatu, dan berjuang untuk kemajuan dirinya sendiri.

Dalam semangat itulah saya pikir, tidak ada alasan bagi kita sesama orang Papua untuk tidak peduli dengan nasib yang sedang dialami oleh Frans Nirigi di Pontianak. Sebab keabaian kita terhadap Frans Nirigi merupakan bukti nyata matinya solidaritas sebagai sesama orang Papua. (Canberra awal musim dingin 2018)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*